Sahabat parasetamol? Hati-hati HATImu

Gak bisa dipungkiri bahwa parasetamol merupakan obat paling akrab bagi kita. Obat pusing dengan berbagai merk hampir semua zat aktifnya parasetamol. Dan karena statusnya sebagai obat bebas (berlogo lingkaran hijau di kemasannya) maka masyarakat dapat dengan mudah mendapatkannya, di warung, minimarket, supermarket, hipermarket, burjo *eh?

Kenalan dengan parasetamol

Kebanyakan orang taunya parasetamol ya obat pusing, jarang banget orang yang bakal ngeliat indikasi, kontra indikasi, apalagi aksi farmakologisnya hahaha

Gimana parasetamol ngeredain pusing kita?

Parasetamol sendiri merupakan obat yang memiliki khasiat sebagai analgesik (meredakan rasa sakit) dan antipiretik (menurunkan demam). Dosis lazim sediaan yang ada di pasaran biasanya 500 mg. Nah sebagai analgesik parasetamol ini kerjanya spesial loh, dia menghambat suatu enzim yang namanya COX-3 (siklooksigenase) yang ada di otak. Berbeda dengan obat-obat analgesik yang lain seperti aspirin, ibuprofen, metampiron atau golongan NSAID mereka menghambat COX-1 dan COX-2 yang ada di sistem syaraf perifer (tepi).

Karenanya golongan NSAID punya efek antiinflamasi/radang sementara di COX-3 g punya. lengkapnya liat di sini

Nah yang perlu kita tahu bahwa semua obat analgesik ini cuma bantu mengurangi gejala rasa sakit, sementara sumber penyakitnya nggak.

Tapi sebagai antipiretik parasetamol langsung menurunkan demam di pusatnya.

Demam sendiri merupakan respon dari tubuh terhadap agen penyebab penyakit. Tapi apabila demam sangat tinggi dimana suhu tubuh di atas normal bahkan mendekati 40 C maka antipiretik perlu diberikan. Demam yang sangat tinggi dapat menyebabkan mengigau, dehidrasi dan bahkan kejang-kejang

Mungkin jika ingin tau apakah kita butuh parasetamol atau g bisa beli di apotek dan meminta konsultasi kepada apotekernya :) Kalo NSAID lainnya punya efek samping ke lambung, ginjal, pembekuan darah dll si parasetamol ini punya efek samping berupa hepatotoksik

Nasib parasetamol di dalam tubuh

Semua obat yang masuk di dalam tubuh merupakan zat yang asing bagi tubuh, makanya tubuh berupaya bagaimanapun caranya si obat itu harus keluar. Kalo di tubuh obat yang relatif larut air (polar) bisa mudah dikeluarkan lewat urin, tapi gimana buat obat yang g? makanya itu ada yang namanya metabolismeMetabolisme sendiri ada 2 fase:

Fase 1 dimana reaksi yang terjadi berupa oksidasi, reduksi, hidrolisis dll yang bikin si molekul obat lebih polar Fase 2 atau fase konjugasi dimana si obat ini dikonjugasi (digandengkan) dengan gugus2 yang bisa bikin dia lebih polar, contohnya: glukoronidasi (ditempel asam glukoronat), sulfatasi (ditempeli gugus sulfat)

Dimana obat itu masuk di fase metabolisme tergantung sifat si obat, jadi ada obat yang harus lewat fase 1 dan 2 supaya bisa dikeluarkan, ada yang langsung fase 2, ada yang cuma fase 1. Nah untuk parasetamol para ahli pertamanya ngira dia cuma lewat metabolisme fase 2 aja yaitu glukoronidasi dan sulfatasi tapi kok lama2 ada laporan berupa kasus hepatotoksik ya? makanya para ahli segera neliti neliti dan didapat bahwa si parasetamol punya 1 lagi jalur metabolisme yang dialah penyebab hepatotoksik

Ternyata parasetamol (APAP = Acetaminophen) ini dimetabolisme juga di fase 1 yaitu oleh Cytochrome P-450 terutama oleh isoenzim 2E1 (CYP 2E1) reaksi dengan CYP 2E1 ini mengoksidasi parasetamol menjadi metabolitnya yaitu N-acetyl-p-benzoquinonimine (NAPQI)Si NAPQI inilah dia yang nakal yang bisa ngiket protein-protein di hati dan menyebabkan hati jadi rusak atau lama-lama mati (nekrosis)

 

Cara tubuh mengusir parasetamol

seperti yang disebutkan tadi bahwa tubuh gatel banget pingin ngusir obat dari dalam tubuh, begitu juga parasetamol. Dan bagaimanapun caranya g mau si NAPQI metabolit parasetamol ini ngiket protein di hati. Nah apa sih yang dilakukan tubuh dalam mengusir NAPQI ini? Hati akan memaksa NAPQI bergandengan dengan Glutathione (GSH). Kenapa? Kalo si NAPQI gandengan dengan GSH, maka si NAPQI ini akan bisa dikeluarkan dari tubuh.

Action: Penyerangan GSH terhadap NAPQI

Si NAPQI sendiri di dalam tubuh bisa mengalami resonansi. Bentuk resonansi NAPQI ditunjukkan oleh gambar berikut:

Bentuk paling atas adalah nomer 1 dan berututan ke bawah sampe nomer 4.

Hasil resonansi NAPQI ini kan membuat dia punya muatan positif dan negatif. Tapi yang kita perhatikan di sini adalah muatan positifnya karena inilah yang mendasari NAPQI bisa dieksresi.

Seperti yang udah disebutin di atas bahwa yang bertugas ngeluarin NAPQI ini si glutathione.

struktur GSH

Si GSH ini sendiri merupakan tripeptida yang terdiri dari asam amino: asam glutamat, glisin dan sistein. Di struktur sistein ini terdapat gugus tiol (S – H). Seperti kita tahu si atom S ini punya 3 pasang elektron bebas, karena itu dia bersifat sebagai nukleofil

sesuai prinsip di kimia organik, nukleofil akan menyerang elektrofil

Di proses ini gugus tiol dari GSH yang kelebihan elektron (nukleofil) akan menyerang karbon positif dari resonansi NAPQI (elektrofil)

Penyerangan terutama terjadi pada bentuk resonansi NAPQI ke 3 dan 4. Kenapa? Karena pada bentuk resonansi NAPQI 1 & 2 terdapat faktor sterik dimana atom C positif terhalangi oleh gugus yang bulky sehingga sulit diserang. Sementara C positif pada bentuk resonansi ke 3 & 4 lebih mudah diserang oleh nukleofil.

Proses penyerangan GSH terhadap NAPQI digambarkan dalam reaksi berikut:

GSH nyerang NAPQI

Kemudian terbentuk senyawa intermediet

senyawa intermediet GSH-NAPQI

Si atom S dengan ini kekurangan elektron karena cuma punya 2 pasangan elektron bebas, untuk itu terjadi peristiwa proton shift. Dimana elektron di ikatan tiol digunakan untuk melengkapi jumlah pasangan elektron bebas sementara H yang bermuatan positif tersebut akan digandeng oleh O bermuatan negatif

Sehingga terbentuk senyawa produk

Final product: NAPQI-GS

Si NAPQI-GS ini bisa dieksresikan dalam urin.

Jadi begitulah cara tubuh mengeluarkan NAPQI yaitu dengan membentuk NAPQI-GS

Proses ini terjadi dalam keadaan normal dimana terdapat jumlah GSH yang cukup untuk menetralkan NAPQI

 

Overdosis Parasetamol

Suicide attempt, overdose

Karena tersedia hampir di setiap rumah, mudah didapat dan murah timbullah ide-ide kreatif nyeleneh orang-orang yang ingin memendekkan umurnya. Nggak hanya 4 butir tablet, 20 bahkan lebih tablet ditelan orang-orang yang ingin bunuh diri itu.

Yah seperti yang bisa diduga, orang-orang yang nganggep parasetamol cemilan itu menderita overdosis. 

Gejala yang timbul? Kalo masih hari 1 dan g minum terlalu banyak muntah-muntah, berkeringat, perasaan gak enak. Kalo minumnya banyak bisa sampe koma dan kegagalan organ lain yang tentunya vital.

Hepatotoksik

Parasetamol dalam dosis terapi dia relatif aman bagi konsumen. Tapi jika dia (dan semua obat lain) diberikan dalam dosis yang tinggi, akan terjadi yang namanya overdosis

Overdosis terjadi bila kadar obat dalam darah melebihi Kadar Toksik Minimal (KTM) atau Minimum Toxic Concentration (MTC)

Biasanya obat yang diberikan berada dalam Indeks terapeutik (therapeutic range) yang dimana dia berefek karena berada di atas konsentrasi efek minimal tapi tidak toksik karena dibawah konsentrai toksik minimal. penjelasan lengkapnya di sini

Lanjut lagi tentang overdosis parasetamol, kalo di atas sudah dijelaskan bagaimana mekanisme pengusiran NAPQI dengan penggandengannya dengan GSH.  Dimana mekanisme itu dapat terjadi bila jumlah GSH cukup untuk netralin NAPQI

Dalam kondisi overdosis, jumlah GSH jauh lebih rendah daripada NAPQI. Karena parasetamol yang dikonsumsi banyak dan NAPQI yang terbentuk banyak.

Kan kita tau bahwa ada 3 jalur metabolisme parasetamol

  1. Glukoronidasi
  2. Sulfatasi
  3. CYP 2E1

Pada kondisi overdosis metabolisme dengan glukoronidasi dan sulfatasi suatu saat akan menjadi jenuh. Hal ini karena jumlah glukoronidasi dan sulfatasi terbatas! Dimana suatu saat jumlah glukoronidasi dan sulfat akan habis dan metabolisme parasetamol akan dibebankan pada jalur CYP 2E1.

Jika jumlah parasetamol yang lewat jalur CYP 2E1 meningkat, maka jumlah NAPQI juga meningkat

Kelanjutannya, jumlah NAPQI akan terlalu banyak bagi GSH. GSH yang ada akan berusaha menetralkan NAPQI dengan semua kemampuan yang dia miliki (dramatis). Namun jumlah GSH semakin lama semakin sedikit dan dapat habis karena biosintesisnya lambat.

Kalo GSH habis gimana nasib sisa NAPQI? NAPQI yang tersisa akan berusaha mencari tempat ikatan, dan celakanya dia berikatan dengan protein-protein di hati.

Sehingga fungsi hati dapat terganggu dan kalo kondisi ini dibiarkan/jumlah NAPQI banyak banget maka dapat terjadi kerusakan dan nekrosis hati

 

Rescue!

Bagaimana jika suatu saat kita menemukan seseorang overdosis parasetamol?

Jika korban ditemukan mengonsumsi parasetamol secepatnya, sekitar 1 jam / kurang, maka beri norit. It sounds silly for you tapi norit akan mencegah parasetamol terabsorpsi ke dalam aliran darah. Parasetamol akan diikat oleh norit. Makanya kalo minum norit sbg obat diare kita harus ngasih jeda minum obat ini dengan obat lain sekitar 2 jam agar obat lainnya tidak diikat oleh norit. Setelah diberikan norit, segera bawa ke rumah sakit terdekat

Bagaimana kalo kita menemukannya dalam waktu >2 jam atau lebih lama? Langsung bawa ke rumah sakit, jangan diberikan norit karena parasetamol kemungkinan sudah ada di sirkulasi darah atau fase eliminasi.

Pada dokter/tenaga medis yang menemui ceritakan kondisi pasien saat ditemukan dan kemungkinan berapa jumlah tablet yang ditelan, ceritakan gaya hidupnya apakah dia suka mengonsumsi alkohol atau g, sedang mengonsumsi obat2an lain, dsb

Apabila pasien sampai koma, kemungkinan terjadi asidosis metabolik dimana pH darah akan menjadi lebih asam dan menyebabkan hiperventilasi atau keliatan megap megap

Pengobatan

Karena yang nulis ini calon farmasis maka tatalaksana pasien di rumah sakit yang dibahas adalah tentang pengobatan.

Antidot spesifik bagi kasus overdosis parasetamol adalah N-acetylcysteine (NAC) 

Sistein dan NAC

Kalo kita ngeliat gambar di atas, cysteine alami dan NAC hanya berbeda dengan adanya gugus asetil di NAC. Gugus asetil ini membantu NAC untuk bisa masuk ke tubuh.

Gimana sih mekanisme NAC sebagai antidotum overdosis parasetamol?

  1. Glutathione (GSH) sendiri butuh sistein sebagai salah satu prekursornya. Dengan pemberian NAC maka sistein dalam tubuh akan meningkat dan demikian pula pembentukan Glutathione (GSH). Jika GSH ada banyak dan jumlahnya mampu mengimbangi atau melebihi jumlah NAPQI maka tidak ada lagi NAPQI bebas yang akan mengikat protein hati
  2. NAC kan punya atom S dalam gugus tiolnya (S-H), nah menurut beberapa sumber NAC dapat menyumbangkan S nya ini untuk digunakan dalam proses metabolisme parasetamol sulfatasi. Dengan adanya sulfat dari NAC maka sulfatasi akan dapat berjalan lagi sehingga metabolisme di CYP dan pembentukan NAPQI akan menurun
  3. NAC dapat menggandeng NAPQI karena dia juga punya nukleofil, hal ini dapat mencegah pembentukan ikatan NAPQI dengan protein hati

Kalo di USA, NAC hanya ada dalam bentuk per oral karena FDA belum meng-approve bentuk iv

Sedangkan di negara-negara lain tersedia NAC dalam bentuk iv, biasanya dilarutkan dalam infus (misal dextrose)

Regimen dose pemberian NAC sebagai berikut:

  1. diberikan loading dose 150 mg/kgBB selama 15-30 menit
  2. maintenance dose 50 mg/kgBB dalam 500 cc dextrose 5% selama 4 jam
  3. 100 mg/kgBB  dalam 1000 cc dextrose 5% selama 6 jam

Sehingga pemberian NAC kurang lebih selama 20 jam, atau dapat juga diberikan sampai 72 jam tergantung keparahannya.

Oia untuk mengetahui apakah pasien perlu mendapat NAC dapat digunakan nomogram Rumack-Matthew minimal 4 jam setelah konsumsi parasetamol bukan setelah muncul gejala overdosis!

Caranya cukup mengeplotkan waktu setelah konsumsi (sumbu x) sebagai sumbu x dengan kadar parasetamol dalam darah pada waktu tersebut (sumbu y). Nanti dicari titik pertemuan keduanya

Apabila titik tersebut berada di bawah kedua garis (daerah low risk) maka tidak perlu diberikan NAC karena kemungkinan hepatotoksik rendah, namun apabila di atas kedua garis (daerah probable risk) maka perlu diberikan NAC.

Bagaimana kalo ada di antara kedua garis atau daerah possible risk? Diberikan NAC karena terdapat kemungkinan terkena hepatotoksik

 

Daftar Pustaka

Anonim, 2005, Acetylcysteine for Acetaminophen Overdose, Utox Update. vol 7(1)

Barile, Frank A., 2005, Clinical Toxicology, CRC Press, London

Crocetti, Michael dan Michael A. Barone, 2004, Oski’s Essential Pediatric 2nd Edition, Lippincot William & Wilkins, United States of America

Ford, Marsha D, Kathleen A Delaney dkk, 2011, Ford: Clinical Toxicology 1st Edition, W.B. Saunders Company, United States of America

Goldfrank, Lewis R., Neal Flomenbaum, 2002, Goldfrank’s Toxicologic Emergency 8th Edition, The Mc Graw Hill Companies, California

Lauterburg, Bernhard H., George B. Corcoran, Jerry R. Mitchell, 1983, Mechanism of Action of N-Acetylcysteine in The Protection Against the Hepatotoxicity of Acetaminophen in Rats in vivo, J. Clin. Invest. vol 71: 980-991

Lee, William M. dan Roger Williams, 1997, Acute Liver Failure, Cambridge University Press, United States of Amercia

Loomis, Ted A., A. Wallace Hayes, Loomis’ Essentials of Toxicology 4th Edition, Academic Press, London

Olson, Kent R., 2006, Poisoning and Drug Overdose 5th Edition, Mc Graw Hill, San Fransico

 

Operasi kebijaksanaan (wisdom tooth) – Odontektomi

Berawal dari vonis dokter yang ngliatin foto rontgen betapa gigi bungsu kananku tidur manis. Well gak bener-bener horizontal sih, tp miring ngedorong gigi lainnya. Nama bekennya impak horizontal.  Satu satunya vonis dilayangkan : Operasi

Walau udah sedikit lebih tua (tapi masih remaja) gak pernah ada pikiran bakal ada masalah di gigi. Selama ini gak pernah sekalipun sakit gigi sekecil apapun, paling waktu kecil doang gigi susu goyang mau copot.  Ini malah baru tau gigi bungsu udah tumbuh gara2 rontgen hahaha. Tapi demi tuntutan peran perawatan mau gak mau harus dilaksanain.

Setelah diskusi dengan dokternya akhirnya sepakat operasinya Senin 17 Oktober 2011 jam 9 pagi  (waktunya anak SD, SMP, SMA upacara -red).  Sebelumnya udah dikasi antiinflamasi & antibiotik untuk diminum 3 hari sebelum operasi, untuk nyampe ke Css kali ya? (garing, bercandaan anak farmasi)

Searching-searching di google nyari penentraman, malah banyak yg cerita serem2 -_____-

Singkat cerita hari yg dinantikan tiba, pagi2 keliling nyari bubur ayam -> masukin ke magic com, es batu -> masukin ke frozen bag, masker dll biar gak repot. Sarapan pagi terasa kaya makan gergaji, gak tenang banget. Mana bolos farmakokinteik klinik & farmakologi klinik lagi T-T

Jam 9 lebih 10 baru nyampe RSGM Prof. Soedomo, lama nyari ojek. Takut bawa motor sendiri pulangnya setelah baca2 blog orang. Di registrasi baru dapet rekmed 15 menitan kemudian, rame banget.

Ke lantai 3 (bagian bedah mulut) gak pake santai, lari gak jelas. Yang terjadi apa? gara-gara malemnya tidur gak tenang, pagi-pagi lari-lari: tekanan darah agak naik dikit. Supaya bisa dioperasi (anehnya aku yg minta tetep operasi ==a) diresepin diazepam.  Disuruh duduk di dental chair.

Beberapa puluh menit kemudian udah ngantuk, diukur denyut jantungnya normal. check lainnya juga normal.

Oia waktu operasi boleh ndengerin musik loh (kabelnya di punggung), jadi sedikit lebih rileks. Trus mbak dan masnya pake baju ijo2 operasi, masker, sarung tangan dll.  Satu orang jadi operator, satunya jadi asisten.

Di bagian depan tubuh dikasih kaya apron errr gak juga ding sesuatu yang pokoknya gak bikin tumpah ke baju kayanya.

Trus dimulai dengan nyuntikin anestesi lokal (lidokain + adrenalin) ke beberapa bagian mulut. Karena yang mau dioperasi yang kanan, yang disuntik bagian kanan. Beberapa saat kemudian udah mulai efeknya. Bibir, lidah, smua mulut bagian kanan jadi berat dan kerasa agak susah digerakin.

Dengan di anestesi bukannya kita gak ngerasa apa-apa selama operasi, tetep aja kita bakal ngerasa ada yang sedang dilakukan di gusi dll di mulut kita, hanya saja gak sakit :D

Abis itu bagian kiri dikasi kaya ganjelan gitu biar gak capek nganga terus. Mulai deh operasinya! Namanya juga di mulut ya gak keliatan, tp yang kurasa sih gusi pertama kaya diiris gitu. gak sakit malah geli hahaha

Trus ada dokter2 lain masuk ngliatin dan ngasih petunjuk. Aku operasinya dengan residen, dan namanya juga di RS pendidikan jd wajar ada dokter2 lain ngliatin. Gak malu kok, malah jadi tenang banyak orang di sana. Trus tukar pikiran

Abis itu yang kuinget sih ada kaya pulpen kecil (kliatannya) tp pas di dalem kedengeran suara kaya bor. Kata dokternya nanti bakal ngurangin tulang di sekitar giginya, kayana pas di proses ini. Gak sakit sih, cm bayangan ada bor di mulut itu rasanya sesuatu hahaha

Kalo sebelumnya di slang yg nyedot ludah bening, ini sekarang jadi merah banget: darah. Gak sengaja salah napas lewat mulut jadi mau muntah. Kalo operasi slalu diingetin napas lewat hidung cuma waktu itu shock haha

Saat rasanya udah sejuta tahun, dokternya berenti ngebor (kok aneh ya kalimatnya) ganti ngambil alat lain. trus si gigi ditarik2. Waktu gak bisa dimasukin alat2 yg tadi, ditarik lagi. Akhirnya giginya bisa dicabut, YEAH! :D

Giginya gak jadi dibelah, masih utuh disimpen di kamar hahaha

Wait! gak berenti sampai di sini. Masih ada proses jahit menjahit.

Alhamdulillah 1,5 jam operasinya lancar! Jg karena pake GMC bayarnya jd cm 150 rb udah termasuk obatnya hahahaha :D

Pasca operasi

Siang masih bisa makan tapi beberapa jam kemudian, ADOOOOWHH. Sakit sesakit sakitnya. Badan panas, lemes. Tergolek di tempat tidur beneran.

Tiap 30 menit dikompres es batu. Mana harus berkali2 keluar beli es batu (frozen bagnya palsu kayanya). Makan cuma bisa bubur, es jus macem macem buah bergelas gelas. Malemnya merupakan malam yg sesuatu banget, berkali-kali bangun, meriang, gak enak, gak bisa terlukiskan

Besok paginya bangun bangun pipi jd chubby sebelah. Maem bubur dan jus lagi. Tp siangnya praktikum imuno udah agak enakan, dipaksain berangkat ke kampus buat praktikum. Sampe lab edel2 tikus, tp lama2 puyeng lagi. Pulang maem di SS (ane cm maem telor ceplok setengah mateng) dengan kondisi mulut kaya ngunyah pentol bakso

Hari rabu udah eneg yg namanya bubur, benjolan udah kecil. Langsung beli lotek hahahaha

siang tobat beli nasi soto banjar, malem nasi sop

Kamis udah enak mulut, cm flu gara2 minum es jus mulu. Sarapan udah pake nasi kuning :D

Jumat Alhamdulillah: NORMAL!

Sekarang tinggal nunggu senen buat buka jahitan :D

Jangan takut untuk odontektomi yaa, daripada ntar tambah nambahin penyakit mending secepatnya ditindak lanjuti :)

*ps: selain minum obat, aku juga minum binahong hahaha. Kata orang2 sih bisa buat luka operasi juga, dan waktu baca jurnal2 juga katanya bisa mempercepat migrasi sel2 darah putih ke tempat lukanya. Entah placebo atau beneran tp kesembuhannya lebih cepet.

Leaders In Training

Alhamdulillah tanggal 29 Juni – 2 Juli 2011 kemarin dikasi kesempatan bisa ikut Leaders In Trainingnya IPSF.

Apa sih Leaders in Training disingkat LIT itu? LIT itu semacam pelatihan buat para calon pemimpin (cieeh) yang diadain sebelum Annual Congressnya IPSF, misal sebelum world congress atau APPS

Karena APPS kemaren diadain di Joga demikian pula LITnya maka ikut deh. Dari UGM yg ikut LIT cuma aku & Rian. Pelatihnya dari RWG (regional working group) IPSF APRO + Eric (PD chair IPSF pusat)

Sesuai namanya di Leaders in Training ini kita diajarin jadi pemimpin yang berkualitas. Misalnya

1. Pertama diajari tipe2 kepemimpinan,  kapan kita harus memakai tipe kepemimpinan sesuai kondisinya.

2. Cara mengatur team / group.

3. Time management, SWOT analysis dll.

4. Bagaimana caranya merencakan sebuah proyek.

5. Berkomunikasi yang efektif (cara bikin PPT yang gak alay :D ). Cara komunikasi ngajuin proposal

6. Email management, bagaimana arrange email biar kita tau mana yg penting dll

7. Mentoring & Coaching

8. Training Trainer, dimana nantinya mungkin suatu saat kita harus mentraining para trainer berikutnya

9. Suksesi

10. 11. 12. 13…… 99. Masih banyak lagi!

Eits ada game2nya juga loh :D

silent caterpillar

ramsamsam

Di LIT selain dapet materi kita langsung praktekin! Setiap tahun para LITers harus menghandle acara auction night (pelelangan). Di sini kita harus siapin siapa jadi MC, harga barang2, persembahan, convert duit dll.

APPS LIT

Tahun ini kita dapet 2 proyek baru yg blm ada di tahun berikutnya: fund raising lagi (kami akhirnya milih dengan cara raffle) dan video untuk promosi IPSF.

Alhamdulillah semuanya berjalan lancar (latian dance utk auction cuma beberapa jam) tapi everything runs GREAT!

Terima kasih teman2 LIT

Hope to see you someday when we’ve already become the leaders! :D

LIT APPS’ video:

Farmakokinetika: Model 2 Kompartemen terbuka IV

Tanpa terasa besok UAS! Karena besok pertama Farkin yuk bahas dulu ^^b

Dari judulnya udah keliatan yang dibahas itu model 2 kompartemen. Trus bedanya apa ama yang dulu (1 kompartemen)?

Pada model 1 kompartemen, obat menganggap tubuh seperti 1 ruang yang sama dimana obat secara cepat terdistribusi ke semua jaringan

Pada model 2 kompartemen, obat menganggap tubuh seperti 2 bagian:

  • Kompartemen sentral: organ2 dimana perfusi darahnya cepat (misalnya hati, ginjal)
  • Kompartemen perifer: organ2 dimana perfusi darahnya lambat (misalnya otot, lemak)

Nah dari ringkasan di atas kita tahu bahwa pada model 2 kompartemen karena dia ada 2 kompartemen dia butuh suatu proses “distribusi”. Proses yang tidak terlalu nampak pada model 1 kompartemen.

Gambar a merupakan model 1 kompartemen sedangkan gambar b adalah model 2 kompartemen. (Jambhekar dan Breen, 2009)

Perbedaan model 1 dan 2 kompartemen

Asumsi untuk model dua kompartemen pemberian IV:

  • Proses distribusi dan eliminasi mengikuti orde pertama
  • Obat tereliminasi dari kompartemen sentral

Data Darah

Pada pemberian obat secara IV, kurva yang diplotkan pada kertas semilog akan memiliki 2 fase. (liat gambar sebelumnya).

  • Fase alfa = Fase distribusi
  • Fase beta = Fase post distribusi = Fase Eliminasi

Perhitungan Data

Pada perhitungannya metode yang umum (dan gampang) digunakan adalah metode residual. Langkah-langkahnya hampir sama kaya metode residual pada 1 kompartemen EV. Hanya saja kadar residual kali ini adalah kadar residual dari fase distribusi bukan absorpsi.

Diketahui

Dosis : 100 mg

Ditanya

Parameter Farmakokinetiknya

Langkah-langkah perhitungan

1. Plot waktu (x) vs log Kadar (y)

Kenapa harus digambar dulu? Dengan tau bentuk kurvanya kita bisa menentukan mana yang termasuk fase distribusi dan mana yang termasuk fase eliminasi.

2. Regresi titik-titik yang termasuk fase eliminasi

Dari grafik, kita tau fase eliminasi dimulai dari waktu 4 jam. Jadi regresi t 4 jam – 16 jam

Regresi : t vs ln Cp

a = 2,7135

b = -0,2106

r  = -0,999


y = bx + a

ln Cp = βt + B

ln Cp = -0,2106t + 2,7135

Sehingga

B = antiln a = 15,083

β = b = 0,2106 /jam

3. Cari Kadar ekstrapolasi pada fase distribusi (Cp’)

Caranya masukkan waktu (t) pada fase distribusi ke persamaan regresi yang didapat pada fase eliminasi

Fase distribusi dari grafik didapat pada t

tapi inget yang didapat masih berupa lnCp!  jadi harus di antiln

t0,25 = -0,261(0,25) + 2,7135 = 2,64825

Jadi Cp’  0,25 = antiln 2,64825 = 14,129 μg/ml

t0,5 = -0,261 (0,5) + 2,7135 = 2,583

Jadi Cp’ 0,5 = antiln 2.583 = 13,2368 μg/ml

t1 = -0,261 (1) + 2,7135 = 2,4525

Jadi Cp’ 1 = antiln 2,4525 = 11,6174 μg/ml

t1,5 = -0,261 (1,5) + 2,7135 = 2,322

Jadi Cp’ 1,5 = antiln 2,322 = 10,196 μg/ml

t2 = -0,261 (2) + 2,7135 = 2,1915

Jadi Cp’ 2 = antiln 2,71915 = 8,9486 μg/ml

4. Cari Kadar Residual (Cr = Cp – Cp’)

yang ini beda sama yang di 1 kompartemen Ekstra vaskular. Pada kasus di Ekstra vaskuler, kadar residual yang berada di antara kedua garis tersebut Cr = Cp’ – Cp. Kenapa? Karena ekstrapolasi fase eliminasi ada di atas garis fase absorpsi.

Berbeda dengan kali ini. Kalo liat di grafik, kan yang di ekstrapolasi fase eliminasi. Tapi hasil ekstrapolasinya ada di bawah fase distribusi. Karenanya kadar residual yang berada di antaranya menjadi Cr = Cp = Cp’

Jadi biar g bingung liat kurva aja. Yang di ekstrapolasi ada di atas / di bawah :)

Kadar Residual :

t 0,25 = 43 – 14.129 = 28.871 μg/ml

t 0,5 = 32 – 13.2368 = 18.7632 μg/ml

t 1 = 20 – 11,6174 = 8.3826 μg/ml

t 1,5 = 14 – 10,196 = 3.806 μg/ml

t 2 = 11 – 8,9486 = 2.0514 μg/ml

5. Regresi linier t vs ln Cr

a = 3.6958

b = -1.5244

r  = -0.99845

A = antiln a = 40.2795

α = b = 1.5244 /jam

NB: hasil perhitungan saya agak berbeda dengan di shargel terutama di fase distribusi karena beda pembulatan aja.

Parameter Farmakokinetika

  • t 1/2 α = 0.693 / α = 0.693/1.5244 = 0.4546/jam
  • t 1/2 β = 0.693 / β = 0.693/0.2106 = 3.2905/jam
  • AUC = (A/α) + (B/β) = (40.2795/1.5244) + (15.083/0.2106) = 98.0424 jam μg/ml
  • Co = A + B = 40.2795 + 15.083 = 55.3625 μg/ml
  • V1 = Div/Co = 100/55.3625 = 1.8063 L
  • K12 = ((A.B(β-α)2) / ((A+B)(Aβ+Bα) = 0.6018/jam
  • K21 = (Aβ+Bα)/A+B  = 0.2771/jam
  • Vβ = Varea = F.Div/β.AUC = 4.8431 L
  • V2 = V1 x (K12/K21) = 3.9229 L
  • Vss = ((K12 + K21)/K21) x V1) = 5.7292 L
  • Cl = Div/AUC = 1.01997 jam/L

Kalo ada yg itungannya beda jauh bilang ya. mata sakit liat angka sebanyak ini ==”

Amount in the body

Misal: berapa jumlah obat yang tersisa 18 jam kemudian?

1. Masukkan t ke persamaan regresi linier fase eliminasi

Ln Cp (18) = -0.2106(18) + 2.7135 = -1.0773

Cp (18) = antiln -1.0773 = 0.3405 μg/ml

2.  Cari Ab 

Ab = Vβ x CP(18)

Ab = 4.8341 x 0.3405 = 1.646  mg

Minat minat minat and I chose FKK!

Ini kenapa milih tournya ke rumah sakit? aku pinginnya ke industri gerutu dalam hati. tapi karena semuanya milih rumah sakit yaudah dipendem aja.

ternyata waktu hari H-nya ke Asan Medical Center. WOW! dijelasin tentang bagaimana apoteker di sana yang profesional dan pembagian kerja yang yahud! lanjut setelah itu ke salah satu apotek di kota Seoul. dan gilanya di belakang apotek kecil mungil itu ada tempat parkir mobil yang susun2. semakin takjub.

Di satu apotek bahkan ada 18 apoteker! dimana mereka langsung duduk ngadepin pasiennya.

But still, walau sehebat apapun kerennya waktu itu tetap pingin ke industri farmasinya korea.

sebenarnya udah lama pingin nulis ini, tapi karena (sok) sibuk jadi males haha

Oia bagi pembaca2 yg ntah kenapa kesasar di blog ini akan kujelasin dulu.

Di farmasi UGM, kami dari semester 1 – 3 dapet matakuliah yang sama. Ya mata kuliah farmasi kaya umumnya sih : farmasi fisik, biologi sel, anatomofisiologi, kimia organik, kimia analisis, biokimia, biologi molekuler, kromatografi, farmakologi dll.

Setelah itu pada semester 4 kami dilakukan-’penjurus’-an atau lebih tepatnya peminatan menjadi 3 minat:

1. Farmasi Sains dan Industri (FSI)

2. Farmasi Komunitas dan Klinik (FKK)

3. Farmasi Bahan Alam (FBA)

back to the story, dari sejak daftar sampe semester 3 minatku hanya 1 : FSI. Aku suka kimor, kromato tapi g suka analisis hha ^^v tapi bukan itu sih yang bikin berubah pikiran.

Pernah waktu lomba debat nasional kefarmasian ketemu dari grup lain (aku lupa univ mana). Kita dapet mosi kalo g salah tentang apoteker gaji minimal 1 juta. Kelompok kami dapet g setuju, sementara kelompok mereka setuju. 1 pertanyaan nyelekit dari mereka, “Anda sendiri sudah lama2 kuliah, susah2 kuliah ngapalin banyak, biaya banyak, apa rela digaji sedikit??”

terkesan lebay memang tapi karena itu emang bener (pake past tense). tujuanku dulu pingin masuk minat itu hanya karena terkesan prestise, gaji (katanya) besar, dll.

dan akhirnya jadi bimbang. apa harus mengikuti kemauan itu atau kata hati. tapi ah masih beberapa bulan lagi, pikirku waktu itu.

Hingga ada 1 momen yang merubah sudut pandang dan tujuanku :)

Singkat cerita di suatu hari kamis saat sedang beli sarung tangan di apotek -sebut saja- X untuk praktikum mikrobiologi. Saat itu kondisi apotek cukup rame, tp sayangnya hanya ada 2 penjaga apoteker (AA mungkin). yang 1 mondar-mandir ngelayani pasien sekitar 7 orang, sedang satunya sedang bicara sama sales ya mungkin? g ngerti juga karena sambil bawa2 buku dan duit hha

Setelah ngantri, akhirnya dapet juga sarung tangannya. Trus saat nunggu kembalian, aku liat ada nenek-nenek sama cucunya. Si cucunya nangis ntah kenapa dan neneknya terlihat bingung. Akhirnya aku ajak ngobrol (g ada maksud buruk kok hhe) sang neneknya. Menurut beliau cucunya sedang batuk dan kadang sesak napas. Biasanya dikasih obat berwarna biru oleh ibunya, tp karena ibunya sedang kerja jadinya g ngerti obat apa yang diberi.

Jeng jeng jeng akhirnya waktu mbaknya lewat aku panggil, dan neneknya crita tentang obat warna biru itu. Dikasihlah berbagai jenis obat dengan kemasan biru. Tetap aja neneknya g tau dan cucunya nangis juga g inget obatnya. Yaudah tak bantuin milihin liat2 komposisi obatnya. dan parahnya g ada yg kenal ama obat disitu =____________=”

waktu itu setauku yang batuk paling dextro buat antitusif, golongan succus buat expectoran, sesek aminofilin dan di komposisi2 obat2 tersebut ndak ada. glek

Akhirnya buka satu2 kemasan obat baca leaflet di dalemnya baru akhirnya nemu 1 obat dengan label untuk anak2 dengan leaflet yang penjelasannya lengkap.

Setelah pasien lainnya dilayani baru deh mbaknya dateng ke tempat kita dan bertanya, “Mau obat apa?” -___________- udah telat banget.

Kemudian setelah mbahnya bayar, aku pamit segera brangkat ke kampus dan masih mikir tentang kejadian tadi.

Mungkin critanya kacau atau geje ya hhe. tp bagi aku yg ngalamin sendiri sih jadi merasa aku belum ngerti apa-apa dan g bisa nolong. padahal nantinya dengan menyandang gelar apoteker orang g akan tanya kamu dari minat apa :(

Setelah tanya2 ke kakak angkatan, ke teman2, dan minta ijin ke ortu (karena sejak masuk saya sudah bertekad masuk FSI) serta istikharah juga.

Bekal cerita dan pengalaman didapat, ijin dikantongi akhirnya waktu kuliah umum, di lembar yang dibagikan untuk peminatan dengan mantap nulis 1 huruf F dan 2 huruf K. :)

dan Alhamdulillah saya g menyesali pilihan saya untuk bergabung di kelas FKK 09

Daan saya jadi tidak menyesali keputusan ngikut teman2 ke Asan Medical Center (^ v ^)/

ternyata memang Allah SWT memang tau yg terbaik bagi hamba-Nya. walaupun waktu itu saya sedikit menyesal dalam hati karena g ke industri, tapi sekarang dengan masuknya saya di fkk ada keinginan misalnya saya di rumah sakit nanti pingin mengimplementasikan sesuai yang saya dapet di sana serta kalo buka apotek bakal sesuai apotek yang kami desain, Pharmville!

(desain lomba ideal pharmacy kami di seoul)

some pics

Asan Medical Center

apt di amc lg bikin sediaan steril

bungkus2 obat

di AMC, distribusi obat benar benar teratur dan bikin tercengang. setiap resep yang masuk melalui komputer ke ruang ini, dalam 15 menit pasti obatnya sudah siap! kecuali resep Cito! bahkan < 5 menit!

Nantinya di masing2 apotek di masing2 bagian ada box2 bertuliskan nama pasien dimana di dalamnya ada riwayat penggunaan obat dan obat yang akan digunakan di hari itu. jadi kalo ada error tinggal ngecek di sana.

Mungkin posting ini agak geje ya, but just wanna show you guys to follow ur heart. ur decision is made by urself, for ur future and u cant do the best if u dont follow ur own path :)

Bukan IP yang menentukan diri anda, bukan prestis yang menentukan pilihan anda, tapi dirimu sendirilah yang menentukannya. ^^

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 362 pengikut lainnya.