Arsip Blog

Obat Anti histamin

Biasanya bagi penderita alergi kenal dengan obat yang satu ini. kalo alerginya kambuh obat inilah yang diberikan sebagai amunisi utama. lalu antihistamin itu apa sih?

Histamin

Sebelum ngomong tentang obatnya, mari kenalan ama histamin itu sendiri.

“Histamin sendiri merupakan senyawa yang terlibat dalam respon imunitas lokal, selain itu senyawa ini juga berperan sebagai neurotransmitter di susunan saraf pusat dan mengatur fungsi fisiologis di lambung”

Sebenarnya histamin sendiri terdapat di hampir semua jaringan tubuh manusia dalam jumlah kecil . Konsentrasi terbesar terdapat di kulit, paru-paru dan mukosa gastrointestinal.

Lalu darimana asal histamin?

Histamin dibentuk oleh histidin dengan bantuan enzim histidine decarboxylase (HDC). Selanjutnya histamin yang terbentuk akan diinaktivasi dan disimpan dalam granul mast cell dan basofil (sel darah putih).

Fungsi Fisiologis histamin

Histamin sendiri secara umum memiliki fungsi fisiologis yaitu:

  1. Sebagai neurotransmitter
  2. Kontrol neuroendokrin
  3. Regulasi kardiovaskuler (terkait kemampuan vasodilatator)
  4. Pengaturan suhu
  5. Berperan pada sekresi asam lambung
  6. Berperan dalam reaksi alergi / anafilaksis

Pelepasan Histamine

Pelepasan histamin sendiri ada 2 macam:

1. Antigen-mediated histamine release

Histamin dilepaskan karena terdapat interaksi antara antibodi dengan antigen. Hal ini mengakitbatkan degranulasi dari mass cell dan basophil.

  • Pertama kali kena (liat di gambar bawah no. 1-3)

Proses ini dimulai dari adanya alergen / antigen yang ditangkap oleh makrofag (salah satu antigen presenting cell / APC).  Lalu timbul sinyal di MHC II (Major Histocompatibility complex) yg terdapat di permukaan APC yang dibawa ke limfosit T terutama T helper. Limfosit akan mengenali dan memerintahkan sel B (limfosit B) untuk menghasilkan IgE. IgE ketemu mast cell dan nempel disana.

  • Lanjut kena lagi (liat di gambar bawah no 4-5)

Kalo terjadi kemasukan alergen lagi (bahasa kerennya: second exposure) antigen tsb g akan lewat jalur kaya td. tp langsung ngiket IgE yang udah nempel di mast cell nah karenanya terjadi pelepasan histamine.

2. Non-antigen-mediated histamine release

Selain dilepaskan karena adanya respon imunologis, histamin juga dapat dilepaskan karena obat, racun, atau senyawa2 lain yg dapat mengganggu bahkan merusak dinding sel dan memancing pelepasan histamin. Atau bisa juga diakibatkan suhu atau rangsangan mekanis lain.

Efek Histamin



Konsentrasi (ng/ml) Biological activities
0 – 1 -
1 – 2 Peningkatan sekresi asam lambung
3 – 5 Tachycardia (peningkatan denyut jantung), reaksi pada kulit
6 – 8 Penurunan tekanan darah
7 – 12 Bronchospasm
>100 Gagal jantung

Reseptor Histamin dan obatnya

Pelepasan histamin selain menyebabkan reaksi alergi juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi (penyempitan saluran pernapasan), peningkatan asam lambung dll. Nah untuk tau pengobatannya, perlu diketahui juga reseptor yg bertanggung jawab.

Mekanisme obat dalam mengobati alergi sebenarnya ada 2: Antagonis histamin dan inhibitor pelepasan histamin

  1. Antagonis histamin bekerja dengan menghambat kerja dari histamin melalui reseptor histamin. Jadi histamin udah terbentuk namun efek farmakologisnya dihambat (dibahas di bawah sesuai reseptornya)
  2. Inhibitor pelepasan histamin bekerja dengan menstabilkan mast cell misalnya cromoglycate sehingga histamin tidak terbentuk. Atau dengan nedocromil yang bekerja dengan menghambat degranulasi dari mast cell.

1. Reseptor H1

Paling banyak berperan dalam alergi namun bisa juga vasodilatasi dan bronkokonstriksi (asma)

Lokasi: Terdapat di otak, bronkus, gastrointestinal tract, genitourinary system, sistem kardiovaskuler, adrenal medula, sel endotelial

Obat antagonis H1

Obat anti histamin H1 biasanya berkompetisi (bersifat kompetitif) dengan histamin untuk mengikat reseptor, untuk meringankan reaksi alergi seperti rhinitis dan urtikaria.

  • Generasi 1 : cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral.  Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-2 jam dengan durasi 4-6 jam. Efek sedatif masih tinggi

contoh: CTM, bromfeniram, prometazin, dimenhidrinat (bisa untuk obat mabuk jg)

  • Generasi 2: cukup baik terabsorbsi setelah pemakaian oral. Level kadar tertinggi dalam darah biasanya 1-3 jam, dengan durasi bervariasi dari 4-24 jam. Efek sedatif minimal

contoh: fexofenadin, loratadin, astemizol, cetirizin

  • Generasi 3: merupakan pengembangan dari generasi 2. Pencarian generasi ketiga ini dimaksudkan untuk memperoleh profil antihistamin yang lebih baik dengan efikasi tinggi serta efek samping lebih minimal.

contoh: desloratadin dan levocetirizin

Semakin tinggi generasinya durasi aksinya makin panjang dengan efek sedatif (ngantuk) semakin minimal

Efek samping obat antagonis H1 selain sedatif (menimbulkan ngantuk) juga atropine-like reactions contohnya mulut kering dan konstipasi.

2. Reseptor H2

Berlokasi di sel parietal lambung yang berperan dalam sekresi asam lambung

Cara kerjanya adalah dengan mengikat reseptor H2 pada membran sel parietal dan mencegah histamin menstimulasi sekresi asam lambung.

Obat antagonis H2: cimetidine, ranitidine, famotidine

3. Reseptor H3

Terdapat di sistem syaraf, mengatur produksi dan pelepasan histamin pada susunan saraf pusat.

Tidak seperti antagonis H1 yang menimbulkan efek sedatif, antagonis H3 menyebabkan efek stimulant dan nootropic dan sedang diteliti sebagai obat Alzheimer

Obat: Imetit, Immepip, clobenpropit, lodoproxyfan

4. Reseptor H4

Dijumpai pada sel-sel inflammatory (eusinofil, neutrofil, mononukleosit). diduga terlibat dalam alergi bersinergi dengan reseptor H1

Masih merupakan target baru obat anti inflamasi alergi karena dengan penghambatan reseptor H4 maka dapat mengobati alergi dan asma (sama dengan reseptor H1)

Obat: Thioperamide,  JNJ 7777120


Memilih analgetik dan antiinflamasi

Saat baca catatan kuliah farmakologi sepertinya seru juga kalo dibagi hehe. Yep cekidot! :)

Pernahkah teman-teman habis jatuh merasakan rasa panas di luka, kemerahan, nyeri bahkan bengkak? Yep gejala di tsb merupakan gejala dari terjadinya inflamasi atau peradangan: rubor (merah), tumor (bengkak), calor (panas), dan dolor (nyeri).

Apa radang itu?

Radang atau inflamasi sebenarnya merupakan respon jaringan hidup untuk mempertahankan diri. Misalnya karena adanya benda asing, bakteri, dsb.

Radang sendiri dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Inflamasi non imunologis : tidak melibatkan sistem imun (g ada reaksi alergi) misalnya karena    luka, cedera fisik, dsb

2. Inflamasi imunologis : Melibatkan sistem imun, terjadi reaksi antigen-antibodi. Misal pada asma

Pada artikel kali ini yang kita bahas yang non imunologis dulu. Yang biasanya terjadi saat ada cedera fisik dan luka.

Terjadinya radang non imunologis?

Radang terjadi saat suatu mediator inflamasi (misal terdapat luka) terdeteksi oleh tubuh kita. Lalu permeabilitas sel di tempat tersebut meningkat diikuti keluarnya cairan ke tempat inflamasi. Terjadilah pembengkakan. Nah kemudian terjadi vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah perifer sehingga aliran darah dipacu ke tempat tersebut. Akibatnya timbul warna merah dan terjadi migrasi sel-sel darah putih sebagai pasukan pertahanan tubuh kita.

That’s why saat radang terjadi kemerahan, pembengkakan, panas dan rasa nyeri. :)

Mediator Inflamasi

Prostaglandin merupakan mediator pada inflamasi yang menyebabkan kita merasa perih, nyeri, dan panas. Nyeri? Yep prostaglandin dapat menjadi salah satu donator penyebab nyeri kepala primer.

Bagaimana prostaglandin dihasilkan?

Di membran sel ada yang namanya Phosphatidylcholine dan Phosphatidylinositol. Saat terjadi luka, membran tersebut akan terkena dampaknya juga. Si phosphatidylcholine dan phosphatidylinositol diubah menjadi asam arakidonat. Nah asam arakidonat nantinya bercabang menjadi dua: jalur siklooksigenasi (COX) dan jalur lipooksigenase.

Pada jalur COX ini terbentuk Prostaglandin dan thromboxane. Sedangkan pada jalur lipooksigenase terbentuk leukotrin.

Loh hasilnya ada lagi selain prostaglandin? Yep hasil-hasil tersebut memiliki peran berbeda:

1. Prostaglandin: mediator inflamasi dan nyeri. Juga menyebabkan vasodilatasi dan edema (pembengkakan)

2. Thromboxane: menyebabkan vasokonstriksi dan agregasi (penggumpalan) platelet

3. Leukotriene: menyebabkan vasokontriksi, bronkokonstriksi

Oia COX sendiri ada 2 macem secara garis besar: COX-1 dan COX-2. COX-1 fungsinya menghasilkan prostaglandin yang esensial bagi tubuh, misal di lambung dan ginjal. Sedangkan COX-2 baru ada kalo ada reaksi inflamasi

Obat anti inflamasi


Obat antiinflamasi dibagi jadi dua: golongan steroid dan nonstreoid.

1. Golongan kortikosteroid.

Obat ini merupakan antiinflamasi yang poten (yang super duper kuat). Karena apa? Obat2 ini menghambat enzim phospholipase A2 sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Nah asam arakidonat g terbentuk brarti prostaglandin jg g terbantuk kan?

Namun, obat anti inflamasi golongan satu ini g boleh digunakan seenaknya. Kenapa? Karena efek sampingnya besar. Bisa bikin moon face, hipertensi, osteoporosis dll. Selain itu penggunaan steroid jangka panjang juga bisa mempengaruhi homeostasis tubuh karena ini pengaruh ke HPA (Hypothalamus – Pituitary – Adrenal Axis). Jadi si steroid sendiri di tubuh dihasilkan oleh adrenal, tapi saat make obat steroid dari luar jangka panjang maka si steroid di dalem tubuh jadi berlebihan, ini bisa bikin yg namanya Cushing.

Tambahan aja kalo di luar negeri penggunaan steroid sangat sangat sangat dibatasi dalam jangka sependek mungkin, dan setelah selesai penggunaannya dilakukan tappering dose. Di sini? hahaha beli dexamethasone di apotek juga dikasih -__-

Contoh : hidrokortison (di Indonesia cuma ada topikal), deksametason, prednisone, betametason, metilprednisolon

2. Golongan NSAID (Non steroid anti inflammatory drug)

Well kalo obat yang satu ini pasti sering liat. Cara kerjanya juga beda ama yang golongan steroid. Obat golongan AINS menghambat COX sehingga tidak terbentuk prostaglandin dan tromboksan. Potensinya sih lebih kecil daripada yang golongan steroid namun ada juga efek sampingnya:

  • Meningkatkan resiko kekambuhan asma

Karena jalur siklooksigenasi dihambat, metabolisme jalur lipooksigenase menjadi meningkat dan produksi leukotrine meningkat. Leukotriene sendiri seperti yang sudah dijelaskan tadi, bisa bikin bronkokonstriksi. Jadi ati2 buat para penderita asma!

  • Pendarahan

Tromboksan yang juga dibentuk COX kan dihambat sehingga darah lebih encer dan g ada yg bertugas untuk membekukan darah. Tidak boleh diberikan pada pasien yang misalnya kena demam berdarah.

  • Gangguan Gagal ginjal, gangguan lambung

Golongan NSAID menghambat kerja COX padahal COX sendiri ada 2 macam: COX-1 dan COX-2. COX-1 merupakan enzim normal yang vital  untuk proteksi lambung dan ginjal. Sedangkan COX-2 lah yang menghasilkan prostaglandin. Nah masalahnya obat yang beredar sekarang adalah obat non selektif yang memblok semua COX. Jadi kalo pake NSAID non selektif prostaglandin yg fungsinya melindungi lambung & ginjal juga dihambat sehingga bisa menyebabkan gangguan di situ.

Pemilihan obat

Karena sifat non selektif dari obat2 anti inflamasi telah diciptakan juga yang namanya COX-2 inhibitor (Celecoxib, Rofecoxib). Awalnya tentu obat2 tersebut mendapat respon yg bagus. Namun kemudian ditarik. WHY? Karena ternyata para pengguna COX-2 inhibitor yg kemudian didiagnosis menderita stroke, jantung koroner dan lain lain.

Well, usut punya usut COX-2 inhibitor ternyata dapat menyebabkan gangguan kardiovaskuler. Karena pembentukan tromboksan g dihambat sehingga akan mengaktivasi platelet. Aktivasi ini kemudian memicu agregasi (penggumpalan) darah. Nah klo ada penggumpalan darah biasanya tekanan darah naik karena terjadi penyumbatan pembuluh. Kondisi ini lambat laun akan memicu terjadinya jantung koroner dan gangguan kardiovaskuler.

Sehingga COX-2 inhibitor sangat riskan untuk digunakan terutama untuk pasien dengan riwayat kardiovaskuler!

Lah lalu obat apa yang sebaiknya dipakai? Bukan bermaksud untuk promosi namun menurut penelitian ternyata Parasetamol aman terhadap efek samping pada NSAID lain. Karena parasetamol menghambat COX-3 yang ada di otak dan spinal cord. Sehingga obat ini efektif untuk meringankan rasa sakit, namun kurang poten untuk anti inflamasi.

Untuk adilnya mari kita liat beberapa profil obat AINS serta analgesik:

1. Parasetamol / Acetaminophen

Seperti yang sudah dijelaskan di atas karena bekerja pada COX-3 di susunan saraf pusat obat ini hanya berfungsi sebagai analgesik dan antipiretik. Selain itu resiko gangguan kardiovaskular minimal karena tidak menghambat tromboksan.

Efeknya dirasakan pada 30 menit dan berlangsung selama 3 jam.

Namun pada penggunaan pada jangka lama, parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati.

2. Aspirin / Asetosal / Asam asetil salisilat

Sebagai analgetik, antipiretik, antiinflamasi dan antiplatelet.

Berkaitan dengan khasiatnya sebagai antiplatelet atau pencegah pembekuan darah maka aspirin tidak boleh diberikan pada pasien dengan gangguan pembekuan darah, pasca operasi serta penderita demam berdarah!

Selain itu aspirin dapat memicu terjadinya asma karena penumpukan leukotrien dan sebaiknya bukan pilihan bagi penderita gangguan lambung karena dapat menyebabkan peptic ulcer disease.

Tidak boleh diberikan pada wanita hamil karena menghambat prostaglandin (untuk kontraksi uterus) yang dapat memperpanjang waktu kelahiran, pendarahan.

3. Antalgin / metampiron

Khasiat sebagai analgetik, antipiretik dan anti inflamasi. Namun efek sampingnya dapat menyebabkan leukopenia (penurunan leukosit) dan agranulositosis (penurunan sel-sel darah putih bergranuler). Di beberapa negara antalgin udah ditarik dari peredaran tapi di indonesia… well you know it.

4. Asam mefenamat

Khasiat sebagai analgetik, antipiretik, anti inflamasi (namun potensinya kurang dari aspirin). Terkait sifatnya yang asam maka jangan diminum saat perut kosong.

5.   Ibuprofen

Khasiat sebagai analgetik dan antipiretik. Biasanya juga digunakan oleh penderita rheumatoid arthritis dan degenerative joint disease.

Sebenarnya masih banyak obat-obat antiinflamasi dan analgesik lainnya. Namun yang perlu kita tahu bahwa tidak ada obat yang tidak punya efek samping. Dan hendaklah pasien jeli dan meminta keterangan apoteker saat membelinya. :)

Maag – penyakit yg jg kuderita ;P

Maag penyakit yang sebenarnya saya derita juga. Kalau kambuh sakitnya minta ampun dan kalau parah bahkan makanan yang masuk pun dapat dikeluarkan kembali.

sebenarnya apa sih maag itu?

Maag sendiri secara medis dibagi 2:

  1. Gastritis : terjadi karena adanya radang di lambung sehingga dinding lambung bengkak, tp belum ada luka. disebabkan oleh makanan yang terlalu pedas / asam atau bakteri atau virus.
  2. Stomach ulcer (tukak lambung) : tingkat lebih berat dari gastritis karena sudah ada luka di lambung dan terbentuk semacam lubang. disebabkan kerusakan mukosa lambung atau usus halus dan didalangi juga oleh si bakteri Helicobacter pylori. karenanya kalo udah terkena paparan tukak lambung dan bakteri tersebut, penderita juga diberi antibiotik.

Gejala yang umum yaitu timbul rasa panas seperti terbakar di bagian lambung. Penyebab umumnya karena pola makan yang tidak teratur, produksi asam lambung berlebih, herediter (diturunkan dari orang tua) dan diperparah oleh stres.

Pengobatan

Pengobatan dengan obat untuk maag dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Menurunkan konsentrasi asam lambung

a. Menetralkan asam lambung

Obat-obat yang berfungsi untuk menetralkan asam lambung sudah familiar dikenal oleh masyarakat dengan nama antasida. Umumnya obat ini terdiri dari perpaduan Al(OH)3 dan Mg(OH)2. kenapa dipadukan? karena Mg(OH)2  sendiri memiliki efek laksatif (bikin mencret) sedangkan Al(OH)3 sendiri memiliki efek konstipasi. nah karenanya  kedua obat basa ini dipadukan untuk menutupi kelemahan masing-masing.

Selama ini obat jenis ini beredar dalam bentuk tablet kunyah dan suspensi. nah sebelum saya masuk farmasi kalo makan tablet kunyah antasid biasanya langsung ditelan :( . untuk informasi antasid biasanya berupa tablet kunyah. kenapa? supaya efeknya cepat. dan untuk yang suspensi harus dikocok2 dulu biar obatnya homogen.

b. Inhibitor (penghambat) produksi asam

Obat jenis ini biasanya bekerja dengan cara mengeblok reseptor Histamin (pemicu sekresi asam lambung) yaitu H2  di lambung. Contoh obat ini misalnya cimetidine (generasi pertama H2 blocker namun mulai ditinggalkan karena banyak efek samping), ranitidine, nizatidine, famotidine (lebih aman dari cimetidine karena tidak melalui biotransformasi hepatik)

c.  Penghambat pompa proton

Pompa proton merupakan tempat keluarnya ion H+ yang membentuk asam lambung. Golongan obat ini lebih  poten daripada obat2 di atas karena memberikan inhibisi maksimal terhadap sekresi HCl. Biasanya diberikan per oral dalam bentuk kapsul selaput yang tahan asam lambung (karenanya obat ini tidak boleh dikeluarkan isinya dan harus ditelan utuh) supaya dapat mencapai sel parietal mukosa. contohnya: Omeprazole, Lansoprazole,  Pantoprazole.

2. Protektif

a.  Sukralfat

Sukralfat mengandung residu Al (OH)3 yang bukan untuk menetralkan asam lambung melainkan untuk membentuk lapisan di lambung yang melindungi dinding lambung dari asam, pepsin, tripsin dan asam empedu. karenanya sukralfat diberikan sekitar satu jam sebelum makan dan saat tidur. namun harus diperhatikan  penggunaan obat ini dapat menyebabkan konstipasi.

b. Misoprostol

Misoprostol merupakan semisintesis prostaglandin (senyawa yang dibutuhkan untuk proteksi mukosa lambung)  yang menyebabkan produksi mukus dan penghambatan asam lambung.

c. Carbonexolone

Obat ini menstimulasi produksi mukus lambung.

Pengobatan yang paling berkhasiat tentu datang dari diri kita sendiri: makan teratur & secukupnya, menjauhi makanan pedas dan asam, tidak stres serta berdoa :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.638 pengikut lainnya.