Farmakokinetika Obat-Model 1 Kompartemen Terbuka Ekstravaskuler

Kalo sebelumnya kita bahas kinetika dalam model satu kompartemen terbuka pemberian intravaskuler, kali ini kita ngomongin hal yg judulnya cuma berbeda di bagian ekstravaskuler.

Nah walau cuma beda antara kata ekstra- dan intra, tapi memberikan perbedaan yang besar dalam kinetika obat. Dalam hal ini terutama yg kita bahas yang per oral. Emang beda seberapa jauh sih?

Absorpsi

Dalam pemberian intra vena yang dibahas sebelumnya, proses ini ndak ada atau dianggap obat terabsorpsi sangat cepat ke pembuluh darah. Pada pemberian per oral obat g langsung masuk ke pembuluh darah, tp dia harus masuk ke lambung dulu dan diabsropsi entah di lambung/usus tergantung pHnya (lebih lengkapnya liat disini)

tuh seperti gambar di atas setelah obat dari saluran Gastrointestinal (GI) diabsorpsi, baru dia bisa masuk ke tubuh (kotak putih) di sinilah baru obat bisa berefek. Trus setelah selese ia diusir dengan eliminasi.

Lah terus maksud tulisan di bawahnya?

Nah Dosis yang kita berikan itu g semuanya masuk ke pembuluh darah. Inget kalo diintravaskuler DB0 = dosis yg kita berikan.

Pada ekstravaskuler jumlah obat yang diterima oleh obat g sama ama dosis yg kita berikan. Pertama saat dia diabsorpsi ada sejumlah obat yang ilang. Ilang maksudnya ada obat yang g keabsorpsi semua, terus selain itu setelah nembus lambung mereka masuk ke vena hepatic dan dimetabolisme oleh hati di metabolisme lintas pertama (first pass effect).

Inilah yang dimaksud DGI atau jumlah obat yang ada di saluran gastrointestinal yang menyangkut juga tentang laju absorbsi obat.

Selain itu ada juga DE atau jumlah obat yang dieliminasi

Sehingga jumlah obat yang diterima tubuh/dalam saluran darah sistemik (DB) itu tergantung pada DGI dan DE seperti rumus di atasūüôā

Kurva kadar plasma-waktu

Kurva pada ekstravaskuler dan intravaskuler sudah terlihat kan bedanya? kalo di ekstravaskuler ada fase absorpsinya.

Pada masing2 fase, perbedaan laju absorpsi dan eliminasi berbeda:

  • Pada fase absorpsi : laju absorpsi obat lebih besar dari laju eliminasi (dDGI/dt > dDE/dt)
  • Pada waktu konsentrasi puncak (Cmax) : laju eliminasi obat = laju absoprsi (dDGI/dt = dDE/dt)
  • Setelah obat mencapai puncak (fase pasca absorpsi) , obat2 tsb g langsung ilang semua. tp ada beberapa obat yang masih berada di saluran cerna. Namun laju eliminasinya lebih cepat dari laju absorpsinya (dDGI/dt < dDE/dt)
  • Pada fase eliminasi dimana obat jumlahnya jauh berkurang, yang terjadi hanyalah eliminasi. Fase absorpsi tidak terjadi dan dianggap nol. Fase eliminasi ini biasanya mengikuti orde ke satu (dDB/dt = -KDB)

Model Absorpsi orde ke satu

kebanyakan obat mengikuti orde ke satu.Model ini menganggap laju absorpsi dan laju eliminasi juga termasuk orde ke satu.

Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa pada saat diabsorpsi obat tidak sepenuhnya sampai di saluran sistemik. Parameter yang dipakai untuk menunjukkan fraksi obat yang sampai di saluran sistemik yaitu F (bioavailabilitas). Selain itu ada pula Ka atau tetapan laju absorpsi obat di saluran gastro intestinal.

dDGI / dt = – Ka x DGI x F

(Tanda minus hanya menunjukkan kadar obat di saluran GI berkurang)

atau jika diubah menjadi bentuk eksponensial

Do merupakan dosis awal yg diberikan

Sedangkan untuk eliminasi faktor yang berpengaruh adalah tetapan laju eliminasi K

dDE/dt = -K x DB

Sehingga jika kita memasukkan persamaan2 tersebut pada dDB/dt = dDGI/dt – dDE/dt menjadi:

dDB/dt = (Ka x DGI x F) – (K x DB)

atau bisa juga ditulis

Persamaan itu jika diutek2 bisa jadi persamaan untuk menghitung konsentrasi obat (Cp) dalam plasma pada waktu t

Selain itu kita juga dapat mencari kadar puncak (Cmax) dengan rumus:

(adapted from Shargel, 2004)

harga A kita dapet dari antiln intersep ekstrapolasi kurva absorpsi.

harga B kita dapet dari antiln intersep ekstrapolasi kurva eliminasi

Metode2 Penetapan Ka

1. Metode Residual

Pada metode residual nilai Ka dianggap sangat besar dibanding K (Ka >>> K)

Sehingga laju absorpsi cepat dan absorspsinya dianggap sempurna

Persamaan Cp menjadi:

atau diperoleh juga

dimana A adalah suatu tetapan

sehingga persamaan Cp menjadi

Trus untuk mencari Ka langkah2nya:

1. Gambar konsentrasi obat vs waktu pada kertas semilog

2. Tentukan minimal 3 titik di bagian eliminasi yg lurus lalu buat regresi linier, kemudian diekstrapolasi.

Dapet y = bx +a

b = slope = K (tetapan laju eliminasi)

a = intersep, anti ln a = B

3.) Tentukan 4 titik pertama di fase absorpsi

4. Cari kadar ekstrapolasi (C’) dengan cara memasukkan variabel waktu dari 4 titik di fase absorpsi yg kita pilih ¬† ¬† (3) ke persamaan regresi linier (2)

5. Cari kadar Residu (Cr) dengan cara: Kadar residu = kadar ekstrapolasi (C’) – Cp

6. Ubah Cr jadi bentuk ln

7. Regresi ln Cr vs t.

8. Ketemu y = bx + a

b = slope = ÔĽŅKa (Tetapan laju absorpsi)

a = intersep, anti ln a = A

9. Bisa nyari harga Cp max deh

(adapted from Shargel, 2004)

dan juga bisa nyari t max ( waktu dimana Cp max tercapai) ^^

tmax = ln (Ka/K) / Ka-K

Setelah dapet variabel A,B,K, dan Ka bisa nyari semuanya sih hhe

AUC 0-inf = (B/K) – (A/Ka)

Vd = (F x Ka x Do) / (Ka x AUC 0-inf)

Clearance total = K x Vd

t 1/2 absorpsi = 0,693 / Ka

t 1/2 eliminasi – 0,693 / K


2. Metode Wagner – Nelson

pada metode ini nantinya kita cari prosen obat yang tidak diabsorpsi (1-Ab/Abinf) vs T

Total dosis obat (Do) dihitung semuanya baik yg di dinding usus (DGI), urin (DU) maupun yg ditubuh (DB).

Do = DGI + DB + DU

jika obat semua sudah diabsropsi (DGI = 0) persamaannya jadi : Do = DB + DU

Du sendiri dapat didapatkan dari: Du = k x Vd x (AUC)o-inf

parameternya:

Ab t = jumlah obat yang diabsorpsi pada waktu t

Ab = Cp x Vd + k x Vd (AUC)o-inf

fraksi obat yang masih harus diabsorpsi

sisa obat di GI tiap waktu

Langkah2 penentuan Ka

1. Gambar log konsentrasi obat vs waktu pada kertas semilog

2. Cari K dengan regresi linier t vs Cp

3. Cari (AUC)t-o dengan metode trapesium

untuk AUC yang terakhir gunakan rumus (Cp pada waktu terakhir / K)

4. Jumlahkan semua AUC hingga didapat (AUC)0-inf

5. Hitung K x (AUC)t-o untuk mendapatkan K (AUC)t-o

6. Untuk mencari Ab/Ab inf dapat digunakan rumus langsung

Cp kadar sesuai soal (data)

K didapat dari langkah nomor 2

(AUC)t-o didapat dengan metode trapesium

(AUC)inf merupakan jumlah semua AUC

7. Cari harga 1-Ab/Abinf

8. Regresi t vs 1-Ab/Abinf

dapet y = bx + a

b = Ka

Sekian dulu ya rangkuman ttg model 1 kompartemen terbuka ekstravaskuler

maaf g pake contoh soal karena sudah capek hhe ^^v

About denikrisna

An ordinary boy. a future pharmacist

Posted on April 3, 2011, in Farmakokinetika. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. pake contoh soal dunk biar jls

  2. ya pake contoh soal dunk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: